MEDAN - Di suatu pagi yang lengang di pesisir barat Sumatera Utara, ingatan tentang hari-hari ketika air naik tanpa aba-aba masih tersimpan di benak banyak orang. Hujan yang dulu terasa biasa, perlahan berubah menjadi ancaman. Sungai meluap, rumah-rumah terendam, dan ribuan orang harus meninggalkan tempat tinggal mereka. Bencana hidrometeorologi yang melanda sejak akhir 2025 itu bukan hanya menguji daya tahan infrastruktur, tetapi juga menguji bagaimana kepemimpinan bekerja di tengah ketidakpastian.
Di tengah situasi itulah nama Bobby Nasution kerap disebut. Bukan semata karena posisinya sebagai gubernur, tetapi karena pendekatan yang ia pilih—menggerakkan banyak pihak dalam satu irama yang sama. Di lapangan, penanganan bencana tidak berdiri sendiri sebagai kerja pemerintah semata. Ia menjelma menjadi kerja kolektif: melibatkan relawan, komunitas lokal, hingga warga yang saling membantu.
Bagi sebagian orang, jargon “Kolaborasi Sumut Berkah” mungkin terdengar seperti kalimat khas kampanye. Namun dalam situasi krisis saat itu, jargon tersebut menemukan bentuknya yang paling nyata. Ia hidup dalam dapur umum yang tak pernah sepi, dalam tangan-tangan relawan yang membagikan logistik, hingga dalam keputusan-keputusan cepat yang diambil untuk memastikan keselamatan warga.
Diagram Indonesia, melalui Sekretaris Eksekutifnya, M. Taufiq Hidayah Tanjung, melihat momen itu sebagai potret penting tentang bagaimana kepemimpinan seharusnya bekerja. Dalam pandangannya, bencana adalah ujian paling jujur: apakah seorang pemimpin hanya mampu mengelola administrasi, atau benar-benar mampu menggerakkan kekuatan bersama.
Angka-angka pada masa itu sempat terasa mencemaskan. Lebih dari 13 ribu jiwa terdampak di lima kabupaten/kota. Di Kabupaten Tapanuli Tengah saja, ribuan orang mengungsi, membawa apa pun yang bisa diselamatkan. Mereka tinggal sementara di pos-pos pengungsian, menunggu kepastian yang tak kunjung jelas.
Namun waktu berjalan, dan perlahan situasi berubah. Pengungsian yang dulu penuh kini mulai kosong. Satu per satu keluarga berpindah ke hunian yang lebih layak—baik hunian sementara, hunian tetap, maupun rumah kontrakan yang difasilitasi pemerintah. Hingga akhirnya, sebuah capaian yang dulu terasa jauh itu benar-benar terwujud: tidak ada lagi warga yang tinggal di pengungsian.
Bagi Taufiq, kondisi “zero pengungsi” bukan sekadar keberhasilan teknis. Ia melihatnya sebagai tanda bahwa kebijakan publik bisa benar-benar berpihak, ketika dijalankan dengan kesungguhan dan melibatkan banyak unsur. Dalam konteks ini, kolaborasi bukan lagi konsep abstrak, melainkan praktik yang menghasilkan dampak nyata.
Meski demikian, kisah ini tidak berhenti pada keberhasilan penanganan. Justru di sanalah tantangan berikutnya dimulai. Ingatan tentang bencana menjadi pengingat bahwa respons cepat saja tidak cukup. Ketangguhan menghadapi masa depan harus dibangun sejak dini—melalui mitigasi, kesiapsiagaan, dan kesinambungan kerja sama lintas sektor.
Hari ini, ketika air telah surut dan kehidupan kembali berjalan, cerita tentang masa itu tetap relevan untuk dikenang. Ia bukan sekadar catatan tentang bencana, tetapi tentang bagaimana sebuah wilayah belajar berdiri kembali—dengan kekuatan yang lahir dari kebersamaan.

0 Comments