Di balik gagasan pembangunan kembali Istana Kesultanan Langkat, tersimpan kerinduan panjang masyarakat Melayu terhadap identitas, sejarah, dan marwah yang pernah runtuh oleh zaman.
Di tanah Langkat, sejarah Melayu tidak pernah benar-benar hilang. Ia hidup dalam ingatan para tetua, dalam adat yang masih dipertahankan, dalam syair-syair Melayu yang terus dilantunkan, dan dalam kerinduan sebagian masyarakat yang merasa peradaban besarnya pernah tercerabut dari akarnya.
Puluhan tahun setelah runtuhnya simbol-simbol Kesultanan Melayu akibat pergolakan sejarah di Sumatera Timur, kini muncul kembali sebuah gagasan besar: membangun kembali Istana Kesultanan Langkat.
Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya pembangunan sebuah bangunan budaya. Namun bagi para penggagasnya, lebih dari itu, istana adalah simbol marwah, identitas, dan upaya menghidupkan kembali ruh peradaban Melayu Langkat yang lama terpendam.
Gagasan tersebut mulai menemukan bentuk setelah sejumlah tokoh Melayu mendeklarasikan pembentukan Komite Kerja Pencanangan Pembangunan Istana Kesultanan Langkat pada Ahad, 10 Mei 2026.
Ariffani, SH, MH bersama T. Arief Fadillah dan Ahmad Damanhuri menjadi bagian dari tokoh yang menggagas pembentukan komite tersebut. Mereka menegaskan, gerakan ini bukan milik kelompok tertentu, melainkan gerakan bersama seluruh masyarakat Melayu.
“Ini bukan milik pribadi ataupun golongan tertentu. Ini milik seluruh bangsa Melayu yang menginginkan bangkitnya kembali kejayaan Melayu, khususnya Melayu Langkat,” ujar Ariffani.
Luka Lama yang Tidak Pernah Benar-Benar Sembuh
Nama Kesultanan Langkat pernah berdiri kuat dalam sejarah Melayu Sumatera Timur. Kesultanan ini dikenal bukan hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi juga pusat syiar Islam, pendidikan, adat Melayu, hingga perkembangan ekonomi di wilayah pesisir timur Sumatera.
Di masa jayanya, Langkat menjadi salah satu wilayah penting dalam perkembangan peradaban Melayu Nusantara.
Namun sejarah berubah drastis ketika gelombang Revolusi Sosial Sumatera Timur pecah pada 1946. Konflik sosial-politik kala itu tidak hanya menghancurkan struktur kekuasaan kesultanan, tetapi juga meninggalkan trauma panjang bagi masyarakat Melayu dan zuriat kesultanan.
Simbol-simbol kebesaran Melayu runtuh. Banyak jejak sejarah hilang. Sebagian masyarakat bahkan tumbuh tanpa lagi mengenal akar sejarah peradaban daerahnya sendiri.
Bagi sebagian tokoh Melayu, kehilangan istana bukan sekadar kehilangan bangunan fisik, melainkan hilangnya pusat simbolik identitas dan marwah Melayu Langkat.
Karena itu, gagasan membangun kembali istana dipandang sebagai upaya menghidupkan kembali memori kolektif masyarakat Melayu.
Bukan Sekadar Bangunan Megah
Di tengah perkembangan zaman modern, muncul pertanyaan: mengapa pembangunan istana dianggap penting?
Para penggagas komite menilai istana memiliki makna jauh lebih luas daripada sekadar bangunan adat atau objek wisata sejarah.
Istana dipandang sebagai simbol pemersatu masyarakat Melayu, pusat kebudayaan, ruang pelestarian adat, sekaligus penanda bahwa sejarah Melayu Langkat masih hidup dan layak diwariskan kepada generasi mendatang.
“Yang sedang dibangun bukan sekadar sebuah bangunan istana, melainkan simbol marwah, sejarah, persatuan, serta warisan peradaban Melayu Islam untuk generasi yang akan datang,” ungkap T. Arief Fadillah dan Ahmad Damanhuri.
Mereka menyadari perjalanan menuju pembangunan istana tidak akan mudah. Selain persoalan teknis dan pendanaan, langkah tersebut juga membutuhkan kesepahaman dari berbagai pihak, mulai dari zuriat kesultanan, tokoh adat, puak Melayu, hingga masyarakat luas.
Karena itu, tahap awal yang kini dilakukan adalah membangun komunikasi dan meminta restu dari berbagai elemen Melayu.
Membangun Peradaban, Bukan Membuka Luka
Di tengah sensitivitas sejarah masa lalu, para penggagas menegaskan bahwa gerakan ini tidak bertujuan membangkitkan konflik ataupun membuka kembali luka sejarah.
Menurut mereka, pembangunan kembali Istana Kesultanan Langkat justru diharapkan menjadi momentum persatuan dan rekonsiliasi budaya masyarakat Melayu.
Dalam keterangannya, Ariffani bahkan mengutip pandangan Syaikh Yasin tentang tiga generasi manusia: generasi yang dikalahkan keadaan, generasi yang melawan kerusakan, dan generasi yang membangun kembali peradaban yang pernah runtuh.
Bagi mereka, pembangunan kembali istana merupakan bagian dari ikhtiar menjadi generasi yang membangun kembali.
“Deklarasi dan pembentukan komite ini diharapkan menjadi bagian dari ikhtiar generasi yang membangun kembali,” katanya.
Kalimat itu mencerminkan bahwa perjuangan yang sedang dibangun bukan hanya proyek fisik, melainkan gerakan kebudayaan dan kebangkitan identitas Melayu.
Menunggu Takdir Tapak Istana
Hingga kini, lokasi pembangunan istana belum ditentukan secara pasti. Namun para penggagas percaya bahwa perjalanan tersebut akan menemukan jalannya sendiri melalui musyawarah dan dukungan masyarakat.
“Soal di mana tapak istananya, akan menjadi jalan yang Allah SWT tetapkan takdirnya,” ujar Ariffani.
Sementara itu, rencana deklarasi besar dengan nuansa adat Melayu disebut tengah dipersiapkan sebagai bagian dari penguatan dukungan moral masyarakat Melayu Langkat dan Nusantara.
Harapan mereka sederhana, tetapi besar maknanya: menghadirkan kembali simbol kebesaran Melayu sebagai titik temu sejarah, adat, Islam, dan persatuan generasi masa depan.
Sebab bagi sebagian masyarakat Melayu Langkat, sejarah mungkin pernah runtuh, tetapi marwah tidak boleh hilang.


0 Comments