Ketukan palu Musyawarah Kabupaten menjadi penanda babak baru bagi dunia pencak silat di Tanah Labuhanbatu. Di tengah suasana hangat penuh persaudaraan pendekar, forum Musyawarah Kabupaten Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Labuhanbatu secara bulat menetapkan Hj. Maisyarah, S.H. sebagai ketua masa bakti 2026–2030 melalui mekanisme aklamasi.
Keputusan tanpa voting itu bukan sekadar formalitas organisasi. Ia mencerminkan satu hal: soliditas perguruan yang memilih berdiri dalam satu barisan. Di ruangan tempat musyawarah digelar, para ketua perguruan, pengurus, dan undangan yang hadir tampak menyambut hasil tersebut dengan optimisme.
Muskab turut dihadiri Ketua Umum IPSI Sumatera Utara Hj. Dahliana, S.H., M.Si., Ketua Dewan Pertimbangan IPSI Sumut Prof. Dr. Agung Sunarno, M.Pd., unsur TNI yang mewakili Dandim 0209/LB melalui Letda Inf. Arfan Ritonga, Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Labuhanbatu H. Boster Sitio, serta jajaran pengurus dan karateker IPSI Labuhanbatu.
Dalam sambutan perdananya sebagai ketua terpilih, Hj. Maisyarah tidak sekadar menyampaikan terima kasih. Ia langsung memetakan arah kepemimpinan: persatuan organisasi dan prestasi atlet.
“IPSI Kabupaten Labuhanbatu harus berkembang dan kita jadikan sebagai organisasi yang melahirkan prestasi. Saya mengajak seluruh perguruan yang tergabung dalam IPSI bersatu memajukan organisasi ini,” ujarnya dengan nada tegas namun merangkul.
Baginya, jabatan bukan sekadar amanah struktural, melainkan ruang kolaborasi. Ia menekankan pentingnya saran dan kritik dari seluruh unsur perguruan. “Sebagai ketua IPSI, saya sangat membutuhkan saran dan kritik yang membangun demi kemajuan IPSI Kabupaten Labuhanbatu,” katanya, menandai komitmen kepemimpinan yang terbuka.
Dari tingkat provinsi, dukungan pun mengalir. Ketua Umum IPSI Sumatera Utara, Hj. Dahliana, menekankan pentingnya disiplin organisasi dan penataan administrasi perguruan agar pembinaan berjalan sehat dan terarah. Ia mengingatkan bahwa seleksi dan legalitas perguruan menjadi fondasi agar tidak terjadi proses ilegal dalam pembinaan.
“Program ke depan sudah menunggu, termasuk kejuaraan tingkat provinsi. Kita harus menyiapkan bibit-bibit unggul dari sekarang,” ujarnya, optimistis bahwa IPSI Labuhanbatu dapat berjaya di bawah kepemimpinan baru.
Senada dengan itu, Ketua KONI Labuhanbatu, H. Boster Sitio, melihat IPSI sebagai salah satu lumbung potensial atlet daerah. Menurutnya, soliditas bukan hanya soal organisasi, tetapi juga soal membangun ekosistem prestasi.
“Harapan kami, IPSI Kabupaten Labuhanbatu semakin solid, profesional dan berprestasi. Seluruh perguruan harus bersatu dalam semangat persaudaraan untuk melahirkan atlet unggul yang mampu bersaing di tingkat provinsi, nasional hingga internasional,” tuturnya.
Menjelang penutupan Muskab, suasana terasa lebih dari sekadar agenda rutin organisasi. Ada harapan yang menguat—bahwa pencak silat sebagai warisan budaya sekaligus olahraga prestasi akan menemukan momentum kebangkitannya di Labuhanbatu.
Kepemimpinan telah terbentuk. Arah telah digariskan. Kini, tantangan sesungguhnya berada di gelanggang pembinaan: membuktikan bahwa soliditas yang terbangun dalam musyawarah benar-benar mampu menjelma menjadi prestasi di arena pertandingan.

0 Comments